Minggu, 10 November 2013

Tulisan 5 - Hari Pahlawan SBY Pimpin Upacara di TMP Kalibata


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin upacara memperingati Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu, (10/11). Presiden datang didampingi Ibu Negara  Ani Yudhoyono.

Pantauan merdeka.com, Presiden mengenakan jas berwarna hitam dipadupadankan dengan kopiah dengan warna senada. Sedangkan, untuk ibu negara sendiri tampil anggun dengan kebaya berwarna biru.

Wakil Presiden RI, Boediono yang turut hadir juga memakai setelan jas hitam. Wapres didampingi istri Herawati Boediono yang memakai kebaya putih.

Kepala Negara melakukan doa arwah dan mendengarkan sirine untuk mengenang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tepat pukul 08.10 WIB.

Setelah mengheningkan cipta, Presiden kemudian meletakkan karangan bunga di tugu pahlawan dan melakukan tabur bunga di makam sejumlah pahlawan, termasuk mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono.

Hadir pula jejeran menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, seperti Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, Kapolri Jenderal Sutarman, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Gubernur DKI Joko Widodo dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Putut Eko Bayuseno.

Hingga pukul 09.05 WIB Presiden belum meninggalkan lokasi lantaran sedang mengadakan rapat internal dengan sejumlah pejabat.


Analisa :

Tulisan di atas menceritakan kehadiran SBY dan istri bersama pejabat lain ke TMP Kalibata untuk memperingati hari pahlawan. Penulis menggunakan paragraf deskriptif dalam artikel ini. Tulisan ini lebih menegaskan pada ciri atau gambaran SBY dan istri serta suasana di tempat.

Tulisan 4 - Dibalik Tingkat Kenaikan Pengangguran


Kondisi ketenagakerjaan pada bulan Agustus tahun ini memburuk. Hal ini terkonfirmasi dari statistik ketenagakerjaan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin lalu (6 November). BPS melaporkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2013 mencapai 6,25 persen atau mengalami peningkatan sebesar 0,11 persen bila dibandingkan dengan kondisi pada Agustus tahun lalu.

TPT menunjukkan persentase angkatan kerja yang sama sekali tidak bekerja. Sementara angkatan kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang aktif secara ekonomi  (economically active) untuk memperoleh—atau membantu memperoleh—pendapatan. Jadi, TPT sebesar 6,25 persen bermakna bahwa sekitar 6 dari setiap 100 angkatan kerja pada Agustus 2013 sama sekali tidak bekerja.

Pada Agustus 2013, jumlah angkatan kerja diperkirakan mencapai  118,2 juta orang. Dengan demikian, jumlah penganggur mencapai 7,39 juta orang. Angka ini mengalami kenaikan sebesar  0,15 juta orang bila dibandingkan dengan kondisi pada Agustus 2012.

Sebetulnya, kenaikan tingkat pengangguran pada Agustus 2013 mengkonfirmasi rendahnya kualitas ketenagakerjaan di negeri ini. Secara faktual, meski TPT cukup rendah, sebagian besar angkatan yang kerja yang bekerja sebetulnya bergelut di sektor informal. Pada Agustus 2013, misalnya, sekitar 62 persen angkatan yang kerja yang bekerja “mengais nasi” di sektor informal. Sebagaimana diketahui, para pekerja di sektor informal lebih diasosiasikan dengan ketiadaan jaminan kerja (kontrak kerja dan perlindungan sosial) dan pendapatan yang rendah.

Pada Agustus 2013, TPT mengalami lonjakan karena Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang memotret kondisi ketenagakerjaan dihelat bersamaan denga bulan Suci Ramadhan. Pada bulan ini—terutama menjelang dan beberapa hari setelah Idul Fitri, banyak pekerja di sektor informal yang memutuskan berhenti bekerja untuk sementara waktu.

Dengan demikian, tantangan pemerintah dewasa ini sebetulnya bukan hanya bagaimana menekan angka pengangguran serendah mungkin. Yang juga tidak kalah penting adalah penyediaan lapangan pekerjaan yang berkualitas bagi angkatan kerja. Apa gunanya TPT relatif rendah, namun pada saat yang  bersamaan sebagian besar angkatan kerja bergelut di sektor informal.

Tidak usah heran bila banyak penduduk negeri ini yang mengadu nasib sebagai TKI di negeri orang—meski di sektor informal. Ini adalah konsekuensi dari ketidakmampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan berkualitas dengan pendapatan yang mencukupi bagi mereka di dalam negeri.
Sebagai bangsa tentu kita malu kala menyaksikan para TKI kita terlunta-lunta dan dideportasi di negeri orang seperti yang sedang ramai diberitakan oleh pelbagai media belakangan ini. Kondisi seperti ini sudah sepatutnya tidak terus berulang. (*)



Analisis : Tulisan ini membahas tentang pengangguran yang masih menjadi masalah besar di indonesia. Masih rendahnya kualitas tenaga kerja, karena sebagian bekerja disektor informal. Menurut saya tulisan ini sudah bagus karena terdapat penjelasan dan data data yang lengkap, tetapi juga terdapat kekurangan dalam tulisan ini yaitu penulis tidak menyebutkan sebab terjadinya peningkatan pengangguran.

Tuisan 3 - Ekonomi Kita = Politikus Tanpa Data


Beberapa saat lalu saya membaca posting dari seorang ekonom yg juga pengajar di universitas ternama. Tercantum tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menurut saya salah. Setelah saya cek ulang dengan data yang ada ternyata memang salah.

Ini sangat memprihatinkan. Bukan hanya karena menyangkut kredibilitas ekonom tersebut, tetapi menunjukkan bahwa perguruan tinggi kita belum melakukan tugasnya sebagai center of excellence, tetapi lebih tertarik pada politik praktis yang menjanjikan hasil instan. Padahal tugas utama perguruan tinggi adalah penelitian bukan berpolitik.

Di Amerika lembaga pemerintah dan perguruan tinggi melakukan survey – survey data ekonomi aktual yang di rilis tiap bulan secara periodik dan terjadwal. Hasil survey tersebut kemudian diolah menjadi indicator ekonomi dan dipublikasikan.

Indikator ini yang nantinya mendeteksi jika ada yang tidak wajar dan salah pada perekonomian sehingga sejak dini bias diambil langkah – langkah penyeimbang.
Indikator – indikator itu dapat dikelompokkan menjadi.
  1. Indikator tingkat produksi
  2. Indikator kelancaran Distribusi
  3. Indikator kinerja ekonomi
  4. Indikator pengendalian
Sedangkan pengendalian adalah respon autoritas keuangan dan pemerintah atas kinerja ekonomi aktual.

Berikut ini daftar indikator yang dirilis oleh pemerintah dan perguruan tinggi di Amerika.

1. Indikator Tingkat Produksi: Tenaga kerja:
  • ADP Non-Farm Employment Change
  • Non-Farm Employment Change / Non-Farm Payrolls (NFP)
  • Unemployment Claims
  • Unemployment Rate
Bahan baku:
  • Crude Oil Inventories
  • Natural Gas Storage
  • Building Permits
  • Housing Starts
Tingkat produksi:
  • ISM Manufacturing PMI
  • ISM Non-Manufacturing PMI
  • Philly Fed Manufacturing Index
  • Empire State Manufacturing Index
2. Indikator Kelancaran Distribusi (sandang, pangan, papan, dan kebutuhan sekunder):
  • Core Retail Sales
  • Retail Sales
  • New Home Sales
  • Pending Home Sales
  • Existing Home Sales
  • Core Durable Goods Orders
3. Indikator Kinerja Ekonomi: Keyakinan konsumen:
  • Prelim UoM Consumer Sentiment
  • Revised UoM Consumer Sentiment
  • CB Consumer Confidence
Keyakinan Investor: Tingkat inflasi:
  • PPI
  • Core PPI
  • CPI
  • Core CPI
Tingkat investasi:
  • Standard & Poors (S&P) Composite Index
  • TIC Long-Term Purchases
  • Bank Stress Test
Kondisi ekonomi:
  • Trade Balance
  • Final GDP
4. Indikator Pengendalian yang dilakukan: Kebijakan Moneter:
  • Federal Funds Rate
  • FOMC Statement
  • Fed Chairman Speaks/Testifies
  • FOMC Member Speaks
Kebijakan Fiskal:
  • Federal Budget Balance
  • Treasury Secretary Speaks
  • Perpajakan
Jika kita lihat runtutan indikator di atas sangat lengkap dan saling berkait. Data yang valid dihasilkan oleh survei yang valid dan peneliti yang tidak beropini.

Peneliti dan ilmuwan sesungguhnya tidak boleh beropini, ia hanya menyampaikan data dan analisa sehingga bisa dipakai pihak lain secara obyektif.

Pihak lain ini bisa berupa politikus, pemerintah, oposisi atau masyarakat, sehingga mereka berdiskusi dan memutuskan masalah atas dasar pijakan data yang sama, bukan berdasarkan selentingan atau rumor.

di Indonesia sekarang ini banyak peneliti dan ilmuwan perguruan tinggi nyambi menjadi politikus. Dua hal yang secara prinsip bertentangan. Ilmuwan bekerja tidak boleh melibatkan opini, sedangkan politikus mendapatkan kursi dan suara karena opininya diamini konstituennya.

Ada baiknya jika memang terjun ke politik praktis, tinggalkanlah perguruan tinggi, sehingga memberi kesempatan pada ilmuwan yang benar - benar mengabdi pada keilmuwannya berkarya. Jadi sebagai negara yang menuju kemajuan baru juga tersedia data - data ekonomi valid yang dirilis berkala seperti yang terjadi di negara - negara maju. Demi kemajuan Indonesia.



Analisis : Dari Tulisan di atas penulis ingin menyampaikan bahwa seorang peneliti atau ilmuan di perguruan tinggi tidak seharus nya  terjun dalam dunia politik karena tugas utama perguruan tinggi adalah meneliti bukan berpolitik. Jadi peneliti tidak boleh sekedar beropini dalam penelitiannya, ia hanya menyampaikan data dan analisa sehingga bisa dipakai pihak lain secara obyektif.

Tulisan 2 - Begini Rasanya Jadi Nasabah Asuransi yang Pailit


“Nasabah Yang Terhormat, karena Asuransi Bumi Asih Jaya (BAJ) dihentikan ijin usahanya sejak 18 Oktober 2013, maka diharapkan datang ke kantor BAJ dengan membawa polis asuransi asli, foto kopi KTP, foto kopi rekening bank, meterai 6000 rupiah dan mengisi formulir pencairan dana.” Demikianlah short message service (SMS) dari agen asuransi BAJ yang saya ikuti, kebetulan masih keluarga.

Asuransi ini sendiri sudah berdiri sejak 1967 dan mengalami Risk Basal Capital (RBC) rendah sejak tahun 2009 dan setelah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 4 tahun tidak berhasil memenuhi RBC 120% seperti yang dipersyaratkan.
RBC adalah cara mengukur kesehatan keuangan sebuah perusahaan asuransi sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Diukur dengan menghitung kemampuan modal perusahaan dinadingkan dengan resiko investasinya.

Sebenarnya saya ikut asuransi tersebut karena mau membantu saudara yang jadi agen BAJ supaya memenuhi target dan tidak terlalu besar juga uang preminya, tetapi memang ada kesal juga si agen ini tidak memberitahukan perusahaan asuransinya sedang ‘galau’ sejak 2009, bahkan bulan Juli lalu masih minta saya tetap bayar premi tahunan.

Kalau saja dia memberitahukan saya kalau perusahaannya itu lagi mau bangkrut, maka dari awal tahun lalu saya ‘menjual’ asuransi saya dan uangnya lebih jelas dari sekarang. Kalau sudah pailit begini, maka pencairan dana akan sangat tidak jelas, apalagi kalau sudah diambil alih oleh pihak ketiga.

Tetapi dari awal saya sudah mengambil sikap tetap menghormati si ‘agen’ asuransi BAJ ini sebagai saudara dan memang ikut asuransi tersebut karena ingin membantunya, jadi tidak merasa rugi-rugi amat, malah menjadi alasan untuk saudara-saudara lain yang menawarkan asuransi/investasi lainnya untuk menolak. Mengaku saja saya trauma berbisnis dengan saudara karena sering tidak objektif dalam menilai sebuah peluang untung atau peluang rugi investasi.

Nah, bagi saudara-saudara yang menyimpan uang di lembaga asuransi terutama produk dalam negeri, supaya dicek kesehatan keuangannya apakah dalam pantauan OJK. Kalau iya, maka siap-siaplah menutup kerja sama, lebih baik rugi sedikit daripada rugi banyak.

Tetapi kalau sudah memutuskan ikut asuransi karena bujukan keluarga dekat dan ada masalah, jangan menyalahkan orang lain karena keputusan ikut atau tidak ke asuransi itu adalah hak mutlak kita. Kalau jadi rugi karena tidak memperhatikan RBC si perusahaan, maka itu salah kita bukan si saudara dekat tersebut, dia kan hanya ‘jualan’ dan kitalah yang memutuskan mau beli atau tidak, mau mengikuti perkembangan asuransinya atau tidak.
Semoga bermanfaat!



Analisis : Tulisan ini menceritakan pengalaman penulis dalam mengikuti asuransi pada perusahaan asuransi yang pailit. Yang disayangkan agen dari perusahaan tersebut tidak terbuka kepada pelanggan jika perusahaannya dalam kondisi keuangan yang buruk, penulis juga menulis saran-saran jika ingin mengikuti asuransi. Dalam menulis artikel ini penulis menggunakan bahasa informal atau bahasa sehari – hari.

Tulisan 1 - Topeng Monyet


Alangkah kaya warna-warni budayanya, first nation yang berjuang di atas tanah sendiri, dan konon ia adalah negara kepulauan terbesar atau mungkin juga terindah di dunia; kita panggil ia, Indonesia.

Berabad-abad sudah kebudayaan peradaban ini hidup dan berjuang untuk terus hidup. Salah satu kebudayaan yang giat diceriterakan ke berbagai penjuru dunia ialah kesenian. Ragam kesenian, meliputi tari, musik, teater, hingga aneka jenis lainnya.

Sejumlah kesenian tersebut dibawakan tidak hanya oleh orang-orang Indonesia dari segala umur, bahkan juga warga negara asing pun ikut membantu menyebarluaskan. Mereka mempelajarinya, sampai dengan membuka program khusus di universitas untuk menekuni hal tersebut. Begitu seriusnya mereka mencari tahu tentang suatu budaya; suatu produk peradaban yang mengandung ‘nilai’.

Nilai, ya semua macam kesenian yang dipromosikan tersebut sesungguhnya mengandung nilai dasar yang mempengaruhi tumbuh kembangnya peradaban tersebut. Terdapat ‘arti’ yang mendewasakan tata tutur hingga pola pikir mereka. Namun, apakah semua hal ini cukup dipahami oleh para promotornya; mereka yang mempromosikan?.

Not really, inilah jawaban yang sering keluar dari sebagian mereka. Ada beberapa tafsiran dari jawaban tersebut. Pertama, bisa jadi mereka cukup sedikit memahami secara umum makna dan nilai dari kesenian tersebut. Kedua, jawaban tersebut bisa jadi sebagai tameng agar si penanya tidak bertanya lebih banyak lagi, karena jika ditanya bisa jadi ia tidak tahu apa-apa soal nilainya.
Itulah sebagian mereka, kita tetap mengapresiasi dan berterima kasih kepada mereka karena telah bersemangat meluaskan salah satu produk kebudayaan bangsa, Indonesia. Tapi kita akan lebih bangga lagi jika mereka juga memahami dengan baik makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam ragam kesenian yang mereka mainkan.

Pemahaman kemudian akan membawa pada kesadaran pengakuan atas nilai-nilai tersebut. Berikutnya, diharapkan nilai-nilai tersebut masuk dan melekat dalam identitas pribadi, akhirnya menjadi karakter; membentuk ciri ke-Indonesiaan.

Beberapa yang terjadi hari ini ialah; sebagian penggiat kesenian Indonesia yang sering bertandang ke berbagai penjuru dunia dan bertemu kebudayaan baru di sana, tergiring dan bahkan larut oleh budaya pop di sana. Akibat dari mereka kurang atau bahkan tidak paham akan nilai dari budaya yang mereka bawa, sehingganya kesenian tersebut hanya jadi topeng bagi mereka.


Topeng, yang dipakai hanya ketika show dan hanya berarti sebagai properti yang tak melekat dengan diri. Di luar show, mereka tidak hidup dengan nilai dari produk budaya tersebut, mereka hidup dengan nilai ‘asing’; diluar budaya asli (seharusnya).

Bukan topeng, bukan hanya menjadi topeng mestinya semua kesenian yang mereka mainkan. Menjadi pakaian inti, itulah hendaknya cara memperlakukan makna dari kesenian tersebut. Pakaian yang ketika ia dilepaskan, maka akan memberi malu bagi pemakainya. Karena itu, ia selalu dipakai kemana pun badan berjalan. Hal ini juga kelak yang menjadikan ia ‘unik’ dan berbeda. Memahami  dengan baik apa makna, nilai dari produk budaya; bisa menjadi nilai tambah bagi perkembangan life skill individu.

Penggiat kesenian harusnya bukan sekadar menjadi penghibur yang menebar hiburan kosong dan hampa. Tak hanya saja menjual gerakan dan harmonisasi nada, gerak, warna, dan kemasan luar lainnya. Itu hanya hiburan semu yang punya daya tahan lemah terhadap godaan hiburan lainnya yang dinamis dan bisa jadi lebih menarik. Hiburan semu tersebut kering, dan akan hilang sampai lenyap dengan cepat.

Itulah, salah satu penyebab banyak budaya asli Indonesia lekas lenyap. Krisis pemahaman akan nilainya oleh si pemilik budaya. Ditambah pula serbuan budaya asing yang marak dengan kekuatan kapitalnya, lumpuh sudah budaya tua itu. Tinggallah beberapa orang yang masih mencoba memperjuangkannya, namun masih agak terlunta-lunta, kurang berkekuatan ‘nilai’.

Maka bagi para pejuang nilai-nilai ke-Indonesiaan, mari coba ketahui lebih dalam makna kebudayaan tersebut. Yakinlah ketika kita mampu menemukannya, itu akan melekat menjadi sebuah pembelajaran budaya yang sesungguhnya, yang ber’nilai’. 


Dalam skala yang lebih besar, panjang, dan luas, ini akan mampu menjadi sebuah cultural understanding; memperkaya nilai pemahaman atas ragam budaya. Lebih luas lagi, usaha di atas akan memicu mutual understanding antarkebudayaan. Ini berarti semakin mendekatkan kepada perdamaian; harmonisasi peradaban, lebih dari sekadar harmonisasi nada, gerak, dan warna.

Itulah cita-cita besar jauh di depan sejatinya yang mampu diraih oleh para penggiat promosi kesenian asli, jika mampu benar-benar memahami nilai yang terkandung di dalam kesenian tersebut dan melekatkannya menjadi identitas yang dibanggakan.

Namun, jika mereka tak kunjung berniat memahami ke arah tersebut dan terus hanya berjingkrak kosong. Maka kita khawatir, suatu hari beberapa orang akan menyebut mereka tak jauh berbeda layaknya topeng monyet, bertopeng dan hanya bertugas sebagai penghibur yang mencari bayaran dan tepuk tangan.


Jika beberapa waktu lalu santer berita tentang pelarangan topeng monyet oleh seorang kepada daerah di suatu provinsi, karena alasan ekploitasi binatang. Maka jangan sampai suatu hari nanti akan keluar berita pelarangan promosi kesenian dengan alasan ekploitasi manusia.

Sebelum kegilaan itu terjadi, mari mengenal lebih dalam kebudayaan kita. Sungguh banyak nilai kearifan yang terkandung dan bisa menjadi modal berharga bagi keberlangsungan peradaban.



Analisis :  Tulisan ini menyampaikan  kepada pembaca untuk lebih menghargai kesenian indonesia. Banyak orang yang masih tidak mencintai kesenian indonesia sehingga mudah terpengaruh budaya dari luar. Akibat dari ketidak pahaman ini, kesenian tersebut hanya akan menjadi topeng bagi mereka.penggiat seni di indonesiapun seperti layaknya topeng monyet, bertopeng dan hanya bertugas menjadi penghibur mencari bayaran dan tepuk tangan. Kita harus lebih menghargai dan memahami kesenian indosia agar kesenian indonesia tidak hilang nantinya.

Bahasa Indonesia 2 - Tugas 3

Tulisan ilmiah populer adalah sebuah tulisan yang bersifat ilmiah dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti walaupun ejaannya menggunakan EYD tapi sipembaca paham tentang isi dari tulisan ilmiah tersebut. Sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Contoh Tulisan Ilmiah Populer

Efek Rumah Kaca

Pengertian efek rumah kaca, Istilah efek rumah kaca atau dalam bahasa inggris disebut dengan green house effect ini dulu berasal dari pengalaman para petani yang tinggal di daerah beriklim sedang yang memanfaatkan rumah kaca untuk menanam sayur mayur dan juga bunga bungaan. Mengapa para petani menanam sayuran di dalam rumah kaca ? Karena di dalam rumah kaca suhunya lebih tinggi dari pada di luar rumah kaca. Suhu di dalam rumah kaca bisa lebih tinggi dari pada di luar, karena Cahaya matahari yang menembus kaca akan dipantulkan kembali oleh benda benda di dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar infra merah, tapi gelombang panas tersebut terperangkap di dalam ruangan rumah kaca dan tidak bercampur dengan udara dingin di luar ruangan rumah kacatersebut. itulah gambaran sederhana mengenai terjadinya efek rumah kacaatau disingkat dengan ERL.

Kemudian dari pengalaman para petani di atas dikaitkan dengan apa yang terjadi pada bumi dan atmosfir. Lapisan atmosfir yang terdiri dari, berturut-turut : troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer: Lapisan terbawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek rumah kaca atau ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah.

Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H20, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Terjadilah Efek Rumah Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca disingkat dengan GRK.

Seandainya tidak ada ERK, suhu rata-rata bumi akan sekitar minus 180 derajat C — terlalu dingin untuk kehidupan manusia. Dengan adanya ERK, suhu rata-rata bumi 330 derajat C lebih tinggi, yaitu 150 derajat C. jadi dengan adanya efek rumah kaca menjadikan suhu bumi layak untuk kehidupan manusia.

Namun, ketika pancaran kembali sinar inframerah terperangkap oleh CO2 dan gas lainnya, maka sinar inframerah akan kembali memantul ke bumi dan suhu bumi menjadi naik. Dibandingkan dengan pada tahun 50-an misalnya, saat ini suhu bumi telah naik sekitar 0,20 derajat C lebih.
Hal tersebut bisa terjadi karena berubahnya komposisi GRK (gas rumah kaca), yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan, GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida. hal tersebut di atas juga merupakan salah satu penyebab pemanasan global yang terjadi saat ini.


Bahasa Indonesia 2 - Tugas 2

Kualitas karya tulis ditentukan oleh beberapa aspek yaitu?
1.    Topik yang menarik
2.    Mudah dipahami pembaca

Penjelasan :

11.      Topik yang menarik

Topik (bahasa Yunani: topoi) adalah inti utama dari seluruh isi tulisan yang hendak disampaikan atau lebih dikenal dengan topik pembicaraan. Topik adalah hal yang pertama kali ditentukan ketika penulis akan membuat tulisan. Topik yang masih awal tersebut, selanjutnya dikembangkan dengan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas. Terdapat beberapa kriteria untuk sebuah topik yang dikatakan baik, diantaranya adalah topik tersebut harus mencakup keseluruhan isi tulisan, yakni mampu menjawab pertanyaan akan masalah apa yang hendak ditulis. Ciri utama dari topik adalah cakupannya atas suatu permasalahan masih bersifat umum dan belum diuraikan secara lebih mendetail.

Topik biasa terdiri dari satu dua kata yang singkat, dan memiliki persamaan serta  perbedaan dengan tema karangan. Persamaannya adalah baik topik maupun tema keduanya sama - sama dapat dijadikan sebagai judul karangan. Sedangkan, perbedaannya ialah topik masih mengandung hal yang umum, sementara tema akan lebih spesifik dan lebih terarah dalam membahas suatu permasalahan. Selanjutnya topik akan dikembangkan menjadi cakupan yang lebih sempit ataupun lebih luas. Topik yang baik adalah topik yang mencakup seluruh isi tulisan dan mampu menjawab semua masalah yang akan ditulis.

22.      Mudah dipahami pembaca


Mudah dipahami oleh pembaca artinya topik yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu baku akan tetapi mudah di pahami oleh pembaca. Topik mudah dipahami oleh pembaca merupakan nilai plus bagi penulis, karena tujuan penulis membuat karya tulis untuk dipahami oleh pembaca. Oleh sebab itu hendaknya dalam membuat karya tulis kita tak hanya mementingkan kondisi sendiri, tetapi kita pun harus memperhatikan kondisi pembaca agar pembaca pun senang dan memahami dengan apa yang kita buat di dalam tulisan tersebut serta mudah dipahami merupakan aspek yang mentukan kualitas karya tulis. Dalam karya tulis, seharusnya menggunakan bahasa yang sopan, baik, dan menggunakan EYD yang tepat agar mudah dimengerti oleh pembaca. Karya tulis yang tidak berbelit – belit, mudah dimengerti maksud inti dari penulisan tersebut, dan berfokuskan pada inti pokok pembicaraan.